jual baju seragam TK nasional Jual seragam PAUD nasional
Pendahuluan
Bab ini bakal menyajikan sejarah singkat tentang seragam tk pertumbuhan layanan pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk anak dan remaja tunanetra di Inggris. Penulis akan berjuang mengidentifikasi peristiwa-peristiwa kunci, tokoh-tokoh dan pengaruh-pengaruh yang telah menyusun sistem penyelenggaraan dan praktek edukasi yang dicerminkan di dalam kitab ini.
Masa-masa Awal
Sekolah kesatu untuk anak tunanetra di Eropa didirikan di Paris pada tahun 1784 oleh Valentin Hauy, namun jelas bahwa di sekian banyak bagian Eropa sebanyak kecil anak tunanetra telah menerima edukasi formal sebelum tahun tersebut, kadang-kadang di sekolah setempat bersama-sama dengan anak-anak yang awas. Beberapa dari anak-anak tersebut, dalam masa kehidupannya selanjutnya, bahkan sukses mencapai prestasi nasional maupun internasional dalam sekian banyak bidang kebudayaan dan akademik. Salah seorang dari pribadi luar biasa ini ialah akademisi Inggris Nicholas Saunderson yang bermunculan pada tahun 1682 dan kehilangan penglihatannya pada masa bayinya sebab cacar. Dia dididik di suatu sekolah di Penistone di Yorkshire dan menonjol dalam sastera klasik dan lantas dalam matematika. Dia selanjutnya masuk Cambridge University, di mana dia diusung sebagai profesor dalam bidang matematika, dan meniti karir yang menonjol sampai meninggalnya pada tahun 1739 (Ritchie, 1930).
Contoh lainnya ialah pendeta terkemuka dan kepala sekolah di Skotlandia yang mempunyai nama Thomas Blacklock, yang meskipun buta semenjak bayi, dididik di suatu sekolah dasar biasa. Dia tidak sedikit menulis puisi dan adalahsalah seorang kawan pujangga Robert Burns.
Lowenfeld (1974) menyampaikan bahwa timbulnya para "self-emansipator" pada mula abad ke-18 ini adalahsalah satu hal yang mendorong minat orang terhadap pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk orang-orang yang tunanetra. Akan tetapi, contoh-contoh yang baik ini bahwasannya adalahtopeng untuk keberadaan yang mengenaskan dari kemiskinan dan ketidaktahuan yang adalahnasib dari banyak sekali orang tunanetra di Eropa pada abad ke-18 dan mula abad ke-19.
Sekolah Khusus dan Sekolah Umum Lokal
Selama waktu rusuh yang mengitari Revolusi Perancis, sekolah yang didirikan oleh Hauy tersebut untuk sedangkan luput dari perhatian orang, dan Hauy melanjutkan pekerjaannya di Berlin dan St. Petersburg di mana dia menolong mendirikan sekolah-sekolah eksklusif baru untuk tunanetra. Selama dua dasawarsa berikutnya sekolah-sekolah semacam ini berdiri di kota-kota besar beda di semua Eropa.
Sekolah khusus untuk tunanetra kesatu di Inggris dimulai di Liverpool pada tahun 1891 dan dibuntuti oleh sekolah-sekolah di Edinburgh, Bristol, London dan kota-kota besar lainnya. Pendirian sekolah-sekolah di Inggris itu dipelopori oleh badan-badan sukarela filantropis atau organisasi-organisasi keagamaan, dan tidak jarang dilengkapi dengan bengkel-bengkel kerja dan rumah-rumah khusus guna tunanetra dewasa yang dinamakan "asylum" (rumah suaka). Pada tadinya sekolah-sekolah ini khususnya bertujuan mengajarkan keterampilan-keterampilan kerja, contohnya piagam pendirian sekolah Liverpool melafalkan bahwa semua tunanetra bakal diberi latihan dalam bidang musik atau seni mekanik supaya mereka dapat berdikari dan berguna untuk masyarakat (Best, 1992).
Meskipun sekolah-sekolah khusus untuk tunanetra di Inggris telah terorganisasi dengan baik semenjak tahun 1860-an, namun sekolah-sekolah itu baru melayani beberapa saja anak-anak tunanetra yang memerlukan pendidikan baju seragam TK PAUD TPA. Berdasarkan keterangan dari Hurt (1988), kampanye guna mendapatkan edukasi dasar untuk semua anak yang tunanetra dibuka pada tahun 1869. Elizabeth Gilbert, puteri tunanetra dari Uskup Chichester, menggalang suatu petisi yang menuntut supaya anak-anak tunanetra tercakup di dalam perundang-undangan nasional tentang edukasi dasar universal.
pendidikan baju seragam TK PAUD TPA dasar universal diperkenalkan di Inggris pada tahun 1870. Meskipun undang-undang tidak mengharuskan sekolah-sekolah umum lokal guna mencakupkan di dalam penyelenggaraannya anak-anak yang tunanetra, namun anak-anak tunanetra dengan jumlah yang lumayan besar diterima di tidak sedikit sekolah umum lokal. Alexander Barnhill, dalam kata pengantarnya pada bukunya A New Era in the Education of Blind Children, or Teaching the Blind in Ordinary School (1875), menuliskan bahwa ada 50 anak tunanetra yang dilatih dengan teknik ini di Skotlandia dan melulu 102 dilatih di lembaga-lembaga khusus untuk tunanetra.
Kelompok-kelompok penjaringan yang didirikan di tidak sedikit kota pada tahun 1830-an dan 1840-an guna menjaring orang tunanetra dewasa guna diberi pengajaran membaca, menemukan pun anak-anak tunanetra yang belum bersekolah. Kota lokasi tinggal Barnhill, Glasgow, tidak terkecuali. Dia menuliskan bahwa di kotanya sendiri, di mana ada sebuah lokasi tinggal suaka yang paling baik, anak-anak laksana ini, dalam jumlah yang lumayan besar, ditemukan tumbuh tanpa edukasi - orang tuanya tidak dapat atau tidak bercita-cita memasukkannya ke lembaga-lembaga untuk tunanetra.
Barnhill berasumsi bahwa pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk anak-anak tunanetra di sekolah biasa adalahsatu-satunya teknik untuk mendapat pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk semua anak tunanetra, dengan argumentasi sebagai berikut: Banyaknya kendala atau tingginya biaya seringkali adalahpenghambat dimasukkannya anak-anak tunanetra ke lembaga-lembaga untuk tunanetra, sehingga tidak sedikit anak yang terabaikan sama sekali. Dalam suasana seperti ini, dalil untuk mendidik anak-anak tunanetra di sekolah biasa mesti dinyatakan sebagai dalil terkuat. Sudah terlihat cukup tidak sedikit indikasi bahwa Negara tidak bakal mentoleransi penyelenggaraan edukasi yang hanya untuk 50% dari populasi anak tunanetra, yang tertampung di lembaga-lembaga, dan tidak mempedulikan selebihnya tumbuh tak terperhatikan. Ketika Barnhill mengadvokasikan guna diselenggarakannya edukasi cuma-cuma untuk anak-anak tunanetra di sekolah-sekolah umum lokal, dia tidak bermaksud menuliskan bahwa sekolah-sekolah eksklusif harus ditutup, tetapi dia menyampaikan bahwa pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk semua anak tunanetra melulu dapat dijangkau dengan memanfaatkan sekolah umum lokal.
The Royal Commission on the Blind and Deaf and Dumb (Komisi Kerajaan guna Urusan Tunanetra dan Tunarungu), yang mengucapkan laporannya pada tahun 1889, menulis bahwa di samping apa yang telah dilakukan di Glasgow, sekolah-sekolah umum di London, Bradford, Cardiff dan Sunderland pun telah mengemban pengajaran untuk anak-anak tunanetra. Laporan tersebut menyampaikan bahwa dalam banyak sekali kasus, anak-anak ini mengekor jadwal biasa bersama-sama dengan teman-temannya yang awas dan bergaul dengan mereka, baik pada masa-masa sekolah maupun pada masa-masa bermain. Di London, anak-anak tunanetra seringkali mengikuti sekolah biasa, namun di samping itu, pada hari-hari tertentu mereka menerima pengajaran eksklusif di pusat-pusat edukasi khusus untuk tunanetra yang jumlahnya terdapat 18 buah. Pada tahun 1888 jumlah borongan anak tunanetra ialah 132.
Para anggota Komisi itu pada lazimnya lebih menyenangi pendidikan baju seragam TK PAUD TPA anak-anak tunanetra bersama-sama dengan anak-anak awas. Mereka mencatat bahwa pergaulan yang bebas dengan orang-orang awas menyerahkan semangat dan kemandirian untuk orang-orang tunanetra, dan menyerahkan stimulus yang sehat, yang memungkinkan mereka berlomba secara lebih sukses dengan orang-orang awas dalam kehidupan mereka kelak dikomparasikan dengan mereka yang dididik sepenuhnya di lembaga-lembaga khusus untuk tunanetra.
Atas gagasan Komisi tersebut, the Elementary Education Act (Undang-undang pendidikan baju seragam TK PAUD TPA Dasar) untuk Anak Tunanetra dan Tunarungu diberlakukan pada tahun 1893. Undang-undang tersebut mengharuskan dewan pengurus sekolah lokal untuk menyerahkan pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk anak-anak tunanetra dari umur lima hingga enam belas tahun, yang adalahsatu prestasi besar pada masa di mana usia paling tidak untuk terbit sekolah untuk anak pada umumnya ialah sepuluh tahun.
Berlawanan dengan apa yang barangkali diharapkan, menjelang akhir abad ke-19 tersebut praktek mendidik anak-anak tunanetra di sekolah umum terlihat menurun, dan sekolah-sekolah khusus tidak dipedulikan untuk mengisi tuntutan keperluan pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk anak-anak tunanetra tersebut sendirian. Sejumlah hal bertanggung jawab atas evolusi ini. Satu di antaranya ialah mungkin bahwa Undang-undang edukasi tahun 1893 tersebut mengandung satu klausul yang menata satu formalitas baru bahwa suatu sekolah mesti memiliki sertifikasi guna dapat dipandang sesuai untuk melatih anakk-anak tunanetra, dan jelas sekolah khusus bakal lebih memungkinkan untuk mengisi persyaratan untuk mendapat sertifikasi itu daripada sekolah umum yang dikelola oleh dewan pengurus lokal. Lebih jauh, menurut Undang-undang edukasi Inggris tahun 1902, lembaga edukasi lokal yang lebih kecil dilebur ke dalam lembaga yang lebih besar, dan banyak sekali otoritas edukasi leburan itu tampaknya lebih suka mengisi kewajibannya terhadap anak-anak tunanetra ini dengan mengongkosi mereka guna masuk ke sekolah khusus untuk tunanetra suasta.
Maka sekolah-sekolah khusus untuk tunanetra mengkonsolidasikan posisinya dan gerakan guna mendidik anak tunanetra di sekolah-sekolah umum lokal kehilangan momentumnya sekitar 70 tahun. Akan tetapi, gerakan ini tidak mati sama sekali, sebab satu survey oleh College of Teachers of the Blind dan National Institute for the Blind (1936) mengadukan bahwa praktek yang saat tersebut dijumpai di Glasgow, sebagaimana dicerminkan oleh salah seorang saksi dari Skotlandia, ialah bahwa di satu dari tiga sekolah guna anak awas ada anak tunanetra.
Pada mula abad ke-20, jumlah anak di sekolah khusus untuk tunanetra meningkat, meskipun sekolah-sekolah itu aga selektif dalam pendekatannya.
Wilson (1907), dalam kata pengantarnya pada edisi keempat dari Information with Regard to Institutions, Societies and Classes for the Blind in England and Wales, mengaku bahwa:
Hal-hal sebagai berikut dapat di anggap sebagai aturan umum yang memprovokasi semua anak yang hendak masuk ke sekolah khusus untuk tunanetra. Mereka mesti buta sama sekali, atau secara praktis ialah buta, tidak berkekurangan dalam daya intelek atau fisiknya, berkesehatan baik, tidak kaku, tidak menderita penyakit kulit ataupun gangguan beda yang bisa mengganggu kenyamanan sesama pelajar, dan mesti telah divaksin atau pernah terpapar cacar.
Secara singkat, bisa ditambahkan bahwa paling sulit guna memberi rekomendasi mengenai apa yang usahakan dilaksanakan terhadap anak tunanetra yang sakit-sakitan, lemah, dan "berkelainan", yang tidak berhak masuk ke sekolah khusus untuk tunanetra.
Sekitar tahun 1907 sekolah berasrama sudah menjadi norma untuk anak-anak tunanetra, dan susunan yang memuat lebih dari 33 sekolah berasrama yang melayani 826 anak laki-laki dan 639 anak wanita dikatalogkan oleh Wilson.
Pada tahun tersebut pun berdiri College of Teachers of the Blind (CTB) (lembaga edukasi guru untuk tunanetra), yang mengerjakan pengujian terhadap guru-guru di sekolah khusus untuk tunanetra dan menyerahkan diploma untuk mereka yang mengisi persyaratannya. Memperoleh diploma CTB dalam masa tiga tahun melatih di suatu sekolah khusus untuk tunanetra menjadi wajib untuk guru-guru menurut ketentuan pemerintah.
Sekolah untuk Anak Kurang Awas (Low Vision)
Sekitar mula abad ke-20, keperluan pendidikan baju seragam TK PAUD TPA anak-anak tidak cukup awas (yang ketika tersebut disebut partially sighted atau partially blind) mulai dinyatakan sebagai bertolak belakang dari keperluan anak-anak yang buta. Klasifikasi kebutaan sampai saat tersebut demikian kabur sampai-sampai anak-anak yang masih mempunyai sisa penglihatan dengan gampang dapat dimasukkan ke sekolah khusus guna anak-anak yang buta ataupun ke sekolah biasa.
Pada tahun 1902, seorang dokter mata muda, N. Bishop Harman, diberi tanggung jawab untuk menyerahkan layanan optalmologis untuk sekolah-sekolah khusus untuk tunanetra di London (Hathaway, 1964). Harman mengejar bahwa tidak sedikit anak di sekolah-sekolah khusus untuk tunanetra di London masih mempunyai cukup tidak sedikit sisa penglihatan untuk mendapat keuntungan dari cara pengajaran visual. Atas rekomendasinya, anak-anak yang mengidap myopia berat dan bentuk-bentuk kehilangan beberapa penglihatan lainnya secara tentatif diperkenalkan dengan metode-metode pengajaran visual di sekolah-sekolah khusus untuk tunanetra di London. Kelas kesatu guna anak-anak tidak cukup awas didirikan pada tahun 1908 di suatu sekolah dasar biasa di Camberwell, suatu tempat di distrik London. Pada awalnya, anak-anak tidak cukup awas itu dilarang menyimak dan menulis, dan pekerjaan belajar/mengajar dilakukan secara lisan. Praktek ini berangsur-angsur berubah dengan diizinkannya pemakaian tulisan cetak tangan berukuran besar pada papan tulis (lihat Gambar 1.1).
Kelas-kelas beda didirikan di sekolah-sekolah umum di London dan tempat-tempat beda di semua Inggris, namun sementara sejumlah kelas khusus tersebut bertahan terus, selama tahun 1930 banyak sekali penyelenggaraan hpendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk anak tidak cukup awas ini dilakukan di sekolah eksklusif yang terpisah. Pada tahun 1931 National Board of Education menyusun sebuah panitia di bawah kepemimpinan Crowther untuk mengoleksi informasi tentang edukasi anak tidak cukup awas. Di antara rekomendasi panitia ini ialah bahwa istilah "partially sighted" lebih tepat daripada "partially blind" guna anak-anak ini, dan bahwa usahakan mereka tidak disekolahkan di sekolah guna anak-anak yang buta.
Perwakilan medis panitia tersebut juga merekomendasikan pelonggaran pembatasan dalam hal menyimak dan mencatat serta latihan jasmani yang sudah dipraktekkan sampai saat tersebut demi dalil "penghematan penglihatan", suatu kepercayaan yang salah bahwa saldo penglihatan bakal semakin berkurang bila dipergunakan sampai-sampai perlu dihemat dengan memberi batas pemakaiannya. Sayangnya laporan Crowther tersebut kecil sekali dampaknya terhadap edukasi anak-anak tidak cukup awas, dan jumlah tempat untuk anak-anak ini di kelas-kelas di sekolah umum tetap terbatas sampai diberlakukannya Undang-undang pendidikan baju seragam TK PAUD TPA (Education Act) 1945 (Department of Education and Science [DES], 1972).
Berbagai Bentuk Penyelenggaraan Lain
Sekitar tahun 1930-an berbagai format penyelengaraan edukasi tersedia untuk sekian banyak kelompok usia. National Institute for the Blind menegakkan "Sunshine Homes for Blind Babies" (rumah sinar mentari untuk bayi tunanetra) di semua Inggris pada tahun 1918, 1923, dan 1924 (College of Teachers of the Blind/National Institute for the Blind [CTB/NIB], 1936). Rumah-rumah ini, yang melayani "anak-anak yang tidak bisa dilayani secara mencukupi di rumahnya sendiri", menawarkan edukasi berasrama untuk anak-anak pra-sekolah sedini mungkin. Anak-anak pra-sekolah yang tidak bermukim di Sunshine Home tidak jarang mendapat trafik dari pekerja sosial yang dinamakan "home teachers for the blind", satu peranan yang sudah berkembang dari "guru menyimak kunjung" yang umum pada abad sebelumnya.
pendidikan baju seragam TK PAUD TPA dasar untuk anak-anak tunanetra tetap mesti antara umur lima hingga 16 tahun. Kebanyakan dari anak-anak ini bersekolah di sekolah khusus untuk tunanetra sampai usia 16 tahun dan lantas disalurkan ke pusat latihan untuk tunanetra di mana mereka mendapat pengajaran kekaryaan dalam keterampilan-keterampilan seperti menciptakan keranjang dan sikat, mengatur tempat tidur, membetulkan sepatu, bertenun atau penyetelan piano (piano tuning).
Pada umur 11 atau 12 tahun, anak-anak tunanetra yang sangat berkemampuan diseleksi untuk edukasi lanjutan dan menengah yang diadakan di Worcester College for the Blind, Chorleywood College for Girls with Little or No Sight, atau The Royal Normal College for the Blind. Pusat-pusat edukasi ini menyiapkan siswa-siswanya guna ujian negara yang hasilnya dapat membawa mereka ke universitas atau karier dalam profesi-profesi tertentu.
Pada tahun 1930-an pun, dinyatakan bahwa penyelenggaraan pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk anak-anak umur sekolah yang diidentifikasi sebagai menyandang ketunanetraan tersebut masih membutuhkan reorganisasi. Sebagian besar dari ke-34 sekolah eksklusif yang ada melulu mempunyai siswa dalam jumlah kecil (kadang-kadang melulu 20 orang) dan tidak bisa menawarkan kurikulum yang luas ataupun kelas-kelas yang lumayan homogen.
College of Teachers of the Blind dan the National Institute for the Blind (CTB/NIB, 1936) merekomendasikan sebuah reorganisasi nasional sampai-sampai pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk anak-anak tunanetra hanya diadakan oleh sekolah-sekolah yang lebih banyak dalam jumlah yang lebih sedikit, yang kesemuanya berasrama. Mereka pun mengusulkan diselenggarakannya taman inderia regional berasrama guna kanak-kanak di bawah umur lima tahun, dan mempertimbangkan guna mereorganisasi sekolah-sekolah khusus untuk tunanetra supaya sesuai dengan sistem baru yang diberlakukan untuk sekolah-sekolah umum, di mana seluruh anak bakal meninggalkan sekolah dasar pada umur 11 tahun guna masuk ke sekolah lanjutan dan menengah yang terpisah.
Perang Dunia Kedua mengacaukan rencana pengembangan sistem pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk tunanetra itu, dan tidak sedikit di antara sekolah eksklusif di kota-kota untuk sedangkan waktu dialihkan ke wilayah pedesaan karena dalil keamanan. Tahun-tahun setelah Perang Dunia Kedua ditandai oleh konsolidasi penyelenggaraan sekolah-sekolah khusus.
Undang-undang pendidikan baju seragam TK PAUD TPA (Education Act) 1944 sudah meredefinisikan kelompok ketunaan dan merangkum untuk kesatu kalinya kelompok "partially sighted" (kurang awas) yang didefinisikan sebagai "pupils who by reason of defective vision cannot follow the ordinary curriculum without detriment to their sight or to their educational development, but can be educated by special methods involving the use of sight" (siswa-siswa yang karena dalil ganguan penglihatan tidak dapat mengekor kurikulum biasa tanpa membahayakan penglihatannya atau pertumbuhan pendidikan baju seragam TK PAUD TPAnya, namun dapat dididik dengan metode-metode eksklusif yang merangkum pemakaian penglihatan).
Antara tahun 1945 dan 1947 empat sekolah berasrama yang sebelumnya mengakomodasi siswa-siswa yang buta maupun tidak cukup awas direorganisasi menjadi sekolah guna siswa-siswa tidak cukup awas saja. Pada akhir tahun 1940-an, sejumlah sekolah khusus untuk tunanetra di bagian unsur utara England direorganisasi menjadi sekolah dasar dan sekolah lanjutan, dan siswa-siswa berganti sekolah pada umur 11 tahun.
Pada akhir tahun 1940-an dan mula tahun 1950-an terjadi penambahan yang tak diperkirakan dalam jumlah anak yang buta menurut keterangan dari pendidikan baju seragam TK PAUD TPA (educationally blind). Anak-anak ini, yang pada lazimnya lahir prematur, pada mula masa bayinya mengembangkan satu situasi yang pada saat tersebut dikenal dengan istilah "retrolental fibroplasia" (RLF) yang menyebabkan ketunanetraan yang parah dan kadang-kadang disertai ketunaan beda yang bersangkutan. Pada awalnya penyebab situasi tersebut melulu sedikit saja dimengerti, tetapi lantas ditemukan bahwa situasi tersebut berhubungan dengan cara-cara pemberian oxygen untuk bayi-bayi prematur. Berkat perbaikan dalam teknik pemberian oxygen untuk bayi-bayi prematur, situasi tersebut mayoritas dapat ditanggulangi tetapi sudah mewariskan sebanyak besar anak tunanetra di sekolah-sekolah berasrama pada tahun 1950-an dan 1960-an.
Sekolah untuk Anak-anak dengan Ketunaan Tambahan
Kesenjangan utama dalam penyelenggaraan pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk tunanetra ialah kurangnya lokasi yang cocok untuk anak-anak tunanetra yang menyandang kendala belajar (learning disabilities). Pada tahun 1930-an, penyelenggaraan pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk anak-anak ini terbatas pada Court Grange School di Abbotskerswell di South Devon, suatu sekolah kecil berasrama yang didirikan pada tahun 1931 oleh National Institute for the Blind guna 34 anak yang dicerminkan sebagai "terbelakang" yang mempunyai peluang yang lumayan baik guna "reklamasi" (CTB/NIB, 1936).
Akan tetapi, pada tahun 1930-an dan bertahun-tahun setelah itu, anak-anak yang menyandang keterbelakangan mental yang paling parah di anggap sebagai tidak dapat didik. The Ellen Terry Homes for Blind Mentally Defective Children (rumah penampungan anak tunanetra dengan ketunaan mental) mengakomodasi 30 anak "yang kondisinya sedemikian rupa sampai-sampai mereka tidak bisa diberi pendidikan baju seragam TK PAUD TPA" (CTB/NIB, 1936). Anak-anak tunanetra yang mengidap epilepsi berat pun dikesampingkan dari sekolah-sekolah khusus untuk tunanetra dan sebanyak anak tunanetra yang menyandang ketunaan beda yang berat tetap sedang di luar sistem pendidikan baju seragam TK PAUD TPA sampai sesudah diberlakukannya Education (Handicapped Children) Act (Department of Education and Science, 1970).
Sebagai respon terhadap semakin bertambahnya kepedulian terhadap anak-anak ini, suatu sekolah didirikan oleh National Institute for the Blind pada tahun 1947 di Condover Hall, sebuah lokasi tinggal peninggalan abad ke-16 di wilayah pedesaan Shropshire. Kepala sekolah kesatunya, Stanley Oscar Myers, menjadi seorang figur yang sangat urgen dalam pengembangan pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk anak-anak tunanetra dengan ketunaan tambahan. Sekolah itu pada tadinya hanya melayani 60 anak umur 7-16, namun pada tahun 1959, sebagai respon terhadap semakin bertambahnya tuntutan kebutuhan, RNIB membuka Rushton Hall School di Northamptonshire guna anak-anak umur 7-11 tahun yang buta menurut keterangan dari pendidikan baju seragam TK PAUD TPA dan memiliki ketunaan tambahan, dan Condover menjadi sekolah lanjutan untuk anak-anak kumpulan ini yang berusia 12-17 tahun. Pada tahun yang sama, "Pathways", suatu unit guna anak-anak yang tunanetra-rungu (deaf-blind), didirikan di Condover (Myers, 1975).
pendidikan baju seragam TK PAUD TPA Guru
College of Teachers of the Blind (lembaga edukasi guru untuk tunanetra) (CTB) adalahtenaga pendorong untuk pengembangan metodologi pengajaran, dan sampai tahun 1950-an adalahsatu-satunya lembaga yang bertanggung jawab untuk mengadakan pendidikan baju seragam TK PAUD TPA guru untuk tunanetra secara profesional di Inggris. Sebagian besar guru yang melatih di sekolah-sekolah khusus untuk tunanetra sudah kawakan mengajar di sekolah umum dan dipersyaratkan untuk mendapat kualifikasi dari CTB sementara melatih penuh masa-masa di posnya yang baru.
Program edukasi kesatu untuk guru-guru guna anak-anak tunanetra yang diadakan di suatu lembaga edukasi tinggi didirikan di University of Birmingham pada pertengahan tahun 1950-an. Angkatan kesatunya terdiri dari enam orang mahasiswa yang mengekor perkuliahan sarat waktu selama setahun untuk diploma. Program tersebut, yang terdahulu berada di bawah kepemimpinan Myfanwy Williams, dan selanjutnya di bawah Elizabeth Chapman OBE, berkembang terus, dan pada tahun 1980-an program ini sudah menyamai peranan CTB di tingkat nasional dalam edukasi guru, menawarkan program edukasi penuh masa-masa maupun perkuliahan jarak jauh sampai tingkat gelar untuk guru-guru dari semua Inggris dan semua dunia.
Pada tahun 1970, Research Centre for the Education of the Visually Handicapped (RCEVH) (pusat penelitian edukasi tunanetra ) didirikan di University of Birmingham di bawah kepemimpinan Dr. Michael Tobin. Di antara karya-karya kesatunya ialah penelitian ke arah penyederhanaan kode Braille dan studi longitudinal terhadap anak-anak yang tunanetra.
Pertumbuhan Sistem Integrasi
Sekitar tahun 1970, pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk anak-anak yang tunanetra menjadi konsentrasi kaji ulang lagi secara nasional. Pengurangan yang tajam dalam jumlah anak yang buta menurut keterangan dari pendidikan baju seragam TK PAUD TPA, yang terjadi setelah kumpulan anak pengidap RLF melalui masa sekolahnya, menimbulkan tuntutan bakal reorganisasi sistem penyelenggaraan pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk anak tunanetra. Kecemasan pun mulai hadir ke permukaan mengenai sempitnya pilihan edukasi yang tersedia untuk para orang tua guna anak-anaknya yang menyandang ketunanetraan.
Perdebatan mengenai pengintegrasian anak-anak tunanetra ke dalam sekolah umum memanas kembali saat bukti mulai hadir dari percobaan skala kecil yang melibatkan pengintegrasian anak-anak dari sekolah-sekolah berasrama guna tunanetra ke sekolah menengah umum lokal. Pada tahun 1961, sekolah khusus untuk tunanetra St. Vincent, suatu sekolah berasrama Katolik guna anak-anak tunanetra segala usia di Liverpool, mulai mengirimkan sejumlah siswanya yang sangat berprestasi ke sekolah dasar Katolik terdekat guna belajar bersama-sama dengan anak-anak awas. Anak-anak tunanetra itu didukung oleh seorang guru kawakan dari St. Vincent yang memberi advis untuk guru-guru ruang belajar di SD tersebut tentang kebutuhan-kebutuhan eksklusif anak-anak itu dan menolong anak-anak tersebut dalam menggarap pekerjaan rumahnya masing-masing malam bila mereka kembali ke St. Vincent. Eksperimen serupa di Tapton Mount School di Sheffield dibuka pada tahun 1969 saat empat orang anak yang edukasi tingkat SD-nya ditempuh di sekolah tersebut melanjutkan edukasi tingkat lanjutannya di suatu sekolah lanjutan komprehensif setempat.
Hasilnya mengindikasikan bahwa dengan tingkat sokongan yang tepat, anak-anak tertentu yang buta menurut keterangan dari pendidikan baju seragam TK PAUD TPA dapat sukses secara akademik di sekolah umum. Akan tetapi, pada saat tersebut keahlian dalam mendidik anak-anak yang tunanetra nyaris secara khusus hanya ditemukan di sekolah-sekolah khusus, dan otoritas edukasi lokal (Local Education Authority / LEA) tidak memiliki banyak pilihan yang bisa ditawarkannya. Pada tahun 1968, Margaret Thatcher, yang pada ketika itu ialah Menteri Negara guna pendidikan baju seragam TK PAUD TPA dan Ilmu Pengetahuan, menyusun sebuah komisi guna mempelajari sekian banyak kemungkinan pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk tunanetra, yang diketuai oleh Profesor M. D. Vernon. Pada saat tersebut penyelenggaraan pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk tunanetra terdiri dari 18 sekolah khusus untuk anak-anak yang buta, 19 sekolah khusus guna anak-anak tidak cukup awas, dua sekolah yang mendidik kedua klasifikasi ketunanetraan tersebut, dan delapan sekolah umum yang meluangkan kelas-kelas khusus untuk anak-anak tidak cukup awas.
Laporan mengenai hasil investigasi tersebut diterbitkan pada tahun 1972 (DES, 1972), dan sebanyak rekomendasi diciptakan mengenai pengembangan sistem pelayanan di masa depan. Diusulkan supaya sebuah rencana nasional diciptakan untuk pendistribusian, pengorganisasian dan manajemen sekolah-sekolah eksklusif dan bentuk-bentuk layanan edukasi lainnya guna tunanetra. Rekomendasi-rekomendasi lainnya merangkum pembentukan kesebelasan asesmen multidisipliner regional guna anak-anak pra-sekolah, dan satu pernyataan bahwa anak-anak ini seyogyanya tidak dijauhkan dari lokasi tinggal keluarganya. Sebagai gantinya, komisi itu mengusulkan supaya anak-anak pra-sekolah seyogyanya didukung oleh seorang guru kunjung (peripatetic teacher) yang ditugaskan oleh otoritas edukasi lokal, yang akan mendatangi anak-anak tersebut di rumahnya, memberi advis untuk orang tuanya dan memberi dukungan untuk pengintegrasian ke taman kanak-kanak setempat.
Rekomendasi itu segera dilakukan berkat keberhasilan suatu layanan eksperimental yang telah disusun di distrik Midlands. Meskipun pada tahun 1950-an semua kepala dan staf senior dari ketujuh taman kanak-kanak Sunshine House telah mengadakan trafik rumah ke keluarga-keluarga bila diminta, tetapi layanan ini hanya diserahkan kepada sejumlah anak saja yang berhubungan dengan taman kanak-kanak tersebut. Sebagai respon terhadap kegelisahan yang diungkapkan pada tahun 1960-an oleh semua kepala sekolah khusus untuk tunanetra mengenai keterlambatan pertumbuhan di kalangan anak-anak yang masuk sekolah-sekolah eksklusif itu, kepala sekolah Lickey Grange School diberi izin oleh atasannya, Birmingham Royal Institution for the Blind, untuk mengadakan program cikal bakal untuk menyerahkan layanan trafik cuma-cuma untuk anak-anak pra-sekolah yang bermukim di dalam radius 50 mil di Birmingham. Guru kunjung spesialis kesatu yang khusus guna anak-anak pra-sekolah beserta keluarganya ini ialah seorang mantan kepala suatu taman kanak-kanak Sunshine House, Heather Jones, yang menempati posisi barunya tersebut pada bulan Januari 1970.
Meskipun respon terhadap permintaan bakal layanan ini dari LEA dialami lamban, tetapi tidak sedikit anak dirujuk melewati kontak pribadi, dan permintaan akan sokongan ini tidak melulu datang dari semua orang tua, taman kanak-kanak dan kumpulan bermain (playgroup), tetapi pun dari guru-guru di sekolah-sekolah umum lokal yang memiliki murid yang tunanetra. Dokter spesialis anak dan psikolog pertumbuhan di pusat-pusat asesmen yang baru berkembang dan unit-unit pengembangan anak di rumah-rumah sakit pun turut menyerahkan layanan, dan segera permintaan akan sokongan atau advis mulai diterima dari semua Inggris. Pada tahun 1971, The Royal National Institute for the Blind (RNIB) sepakat untuk memungut alih layanan advisoris ini dan mengusung dua orang guru untuk tunanetra yang lebih kawakan untuk tugas tersebut. Jumlah tim itu tumbuh terus untuk mengisi permintaan nasional yang senantiasa meningkat.
Meskipun Laporan Vernon tersebut telah mendapat respon yang spektakuler terhadap rekomendasinya mengenai sistem integrasi, namun komisi yang diketuai oleh Prof. Vernon tersebut menyarankan supaya dilaksanakan percobaan lebih lanjut tentang pendidikan baju seragam TK PAUD TPA anak-anak tunanetra di sekolah umum, baik dalam ruang belajar reguler maupun ruang belajar khusus. Di samping itu, sedangkan RNIB memperluas layanan advisorisnya, sejumlah otoritas lokal mulai mengusung guru-guru advisorisnya sendiri. Manchester dan Cleveland ialah di antara otoritas lokal kesatu yang mengadakan program layanan untuk menyokong anak-anak yang tunanetra di sekolah umum. Sebagian besar dari "peri-peri" cikal bakal itu dipungut oleh LEA dari guru-guru yang berkualifikasi dari sekolah-sekolah khusus untuk tunanetra. Guru-guru ini tidak banyak demi tidak banyak mempertinggi tingkat sokongan lokal untuk para orang tua beserta anak-anaknya. Fokus layanan ini pada awalnya ialah untuk memberi sokongan kkepada anak-anak pra-sekolah dan memberikan sokongan pengajaran untuk anak-anak tidak cukup awas di sekolah umum. Layanan ini meluas dengan cepat, dan di sejumlah wilayah kesebelasan guru kunjung mulai menawarkan pengajaran dan sokongan advisoris yang merangkum semua kumpulan usia dan seluruh tingkat keterampilan anak-anak yang tunanetra.
Warnock Report (DES, 1978) menyajikan hasil sebuah investigasi pemerintah mengenai pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk anak-anak penyandang keperluan khusus dan memperkuat kecenderungan ke arah edukasi anak-anak penyandang keperluan khusus di sekolah umum. Education Act 1981 (DES, 1981) melafalkan bahwa anak-anak penyandang keperluan khusus seyogyanya mendapat pendidikan baju seragam TK PAUD TPAnya di sekolah umum setempat asalkan menyimak efisiensi pemakaian sumber-sumber yang ada.
Hal ini lebih mempercepat lagi penambahan jumlah unit layanan advisoris LEA untuk anak-anak tunanetra pada tahun 1980-an. Anak-anak tidak cukup awas sekarang pada lazimnya dididik di sekolah-sekolah umum, dan urusan ini mulai dominan pada penerimaan murid baru untuk sekolah-sekolah khusus untuk anak tidak cukup awas. Selama akhir tahun 1970-an dan mula tahun 1980-an, sekolah-sekolah khusus untuk anak-anak tidak cukup awas merasakan pengurangan peranan secara menyeluruh dan tidak sedikit di antaranya mesti tutup. Beberapa yang bertahan mulai pun menawarkan layanan untuk anak-anak yang buta secara pendidikan baju seragam TK PAUD TPA, dan akibatnya perbedaan antara sekolah khusus untuk anak-anak yang buta dan sekolah khusus untuk anak tidak cukup awas tidak terdapat lagi, sebab sekolah-sekolah eksklusif yang bertahan tersebut kini melayani seluruh klasifikasi ketunanetraan dengan rentangan keterampilan yang lebih luas.
Sistem layanan guru kunjung tumbuh terus dan menjelang mula tahun 1990-an nyaris semua otoritas edukasi lokal di Britania sudah menyusun dinas layanannya sendiri. Karena layanan itu beroperasi di sekolah umum, maka suatu cerminan yang lebih menyeluruh mulai hadir tentang populasi anak tunanetra. Angka populasi itu terevisi terus. Pada tahun 1990-an, sekian banyak laporan mengindikasikan bahwa angka yang tepat ialah sekitar 19.500 anak, yang dua pertiganya diduga menyandang ketunaan ekstra (lihat Bab 2 dan 32).
Meskipun sekolah-sekolah khusus untuk tunanetra melulu melayani beberapa kecil dari 19.500 anak ini, namun penurunan dalam populasi sejumlah sekolah ini tampaknya sudah menjangkau titiknya. Terdapat konsensus di kalangan semua pendidik mengenai perlunya terdapat sekian banyak jenis layanan di masing-masing wilayah, sampai-sampai dapat menawarkan untuk para orang tua satu opsi yang lebih mereka sukai salah satu bermacam-macam jenis sistem penyelenggaraan edukasi yang tersedia untuk anak-anaknya yang menyandang ketunanetraan.
Tantangan masa sekarang dan masa depan akan dikaji pada bab selanjutnya, namun prestasi dan kegagalan di masa lalu tersebut patut disalin dan ditandai.
Bab ini bakal menyajikan sejarah singkat tentang seragam tk pertumbuhan layanan pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk anak dan remaja tunanetra di Inggris. Penulis akan berjuang mengidentifikasi peristiwa-peristiwa kunci, tokoh-tokoh dan pengaruh-pengaruh yang telah menyusun sistem penyelenggaraan dan praktek edukasi yang dicerminkan di dalam kitab ini.
Masa-masa Awal
Sekolah kesatu untuk anak tunanetra di Eropa didirikan di Paris pada tahun 1784 oleh Valentin Hauy, namun jelas bahwa di sekian banyak bagian Eropa sebanyak kecil anak tunanetra telah menerima edukasi formal sebelum tahun tersebut, kadang-kadang di sekolah setempat bersama-sama dengan anak-anak yang awas. Beberapa dari anak-anak tersebut, dalam masa kehidupannya selanjutnya, bahkan sukses mencapai prestasi nasional maupun internasional dalam sekian banyak bidang kebudayaan dan akademik. Salah seorang dari pribadi luar biasa ini ialah akademisi Inggris Nicholas Saunderson yang bermunculan pada tahun 1682 dan kehilangan penglihatannya pada masa bayinya sebab cacar. Dia dididik di suatu sekolah di Penistone di Yorkshire dan menonjol dalam sastera klasik dan lantas dalam matematika. Dia selanjutnya masuk Cambridge University, di mana dia diusung sebagai profesor dalam bidang matematika, dan meniti karir yang menonjol sampai meninggalnya pada tahun 1739 (Ritchie, 1930).
Contoh lainnya ialah pendeta terkemuka dan kepala sekolah di Skotlandia yang mempunyai nama Thomas Blacklock, yang meskipun buta semenjak bayi, dididik di suatu sekolah dasar biasa. Dia tidak sedikit menulis puisi dan adalahsalah seorang kawan pujangga Robert Burns.
Lowenfeld (1974) menyampaikan bahwa timbulnya para "self-emansipator" pada mula abad ke-18 ini adalahsalah satu hal yang mendorong minat orang terhadap pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk orang-orang yang tunanetra. Akan tetapi, contoh-contoh yang baik ini bahwasannya adalahtopeng untuk keberadaan yang mengenaskan dari kemiskinan dan ketidaktahuan yang adalahnasib dari banyak sekali orang tunanetra di Eropa pada abad ke-18 dan mula abad ke-19.
Sekolah Khusus dan Sekolah Umum Lokal
Selama waktu rusuh yang mengitari Revolusi Perancis, sekolah yang didirikan oleh Hauy tersebut untuk sedangkan luput dari perhatian orang, dan Hauy melanjutkan pekerjaannya di Berlin dan St. Petersburg di mana dia menolong mendirikan sekolah-sekolah eksklusif baru untuk tunanetra. Selama dua dasawarsa berikutnya sekolah-sekolah semacam ini berdiri di kota-kota besar beda di semua Eropa.
Sekolah khusus untuk tunanetra kesatu di Inggris dimulai di Liverpool pada tahun 1891 dan dibuntuti oleh sekolah-sekolah di Edinburgh, Bristol, London dan kota-kota besar lainnya. Pendirian sekolah-sekolah di Inggris itu dipelopori oleh badan-badan sukarela filantropis atau organisasi-organisasi keagamaan, dan tidak jarang dilengkapi dengan bengkel-bengkel kerja dan rumah-rumah khusus guna tunanetra dewasa yang dinamakan "asylum" (rumah suaka). Pada tadinya sekolah-sekolah ini khususnya bertujuan mengajarkan keterampilan-keterampilan kerja, contohnya piagam pendirian sekolah Liverpool melafalkan bahwa semua tunanetra bakal diberi latihan dalam bidang musik atau seni mekanik supaya mereka dapat berdikari dan berguna untuk masyarakat (Best, 1992).
Meskipun sekolah-sekolah khusus untuk tunanetra di Inggris telah terorganisasi dengan baik semenjak tahun 1860-an, namun sekolah-sekolah itu baru melayani beberapa saja anak-anak tunanetra yang memerlukan pendidikan baju seragam TK PAUD TPA. Berdasarkan keterangan dari Hurt (1988), kampanye guna mendapatkan edukasi dasar untuk semua anak yang tunanetra dibuka pada tahun 1869. Elizabeth Gilbert, puteri tunanetra dari Uskup Chichester, menggalang suatu petisi yang menuntut supaya anak-anak tunanetra tercakup di dalam perundang-undangan nasional tentang edukasi dasar universal.
pendidikan baju seragam TK PAUD TPA dasar universal diperkenalkan di Inggris pada tahun 1870. Meskipun undang-undang tidak mengharuskan sekolah-sekolah umum lokal guna mencakupkan di dalam penyelenggaraannya anak-anak yang tunanetra, namun anak-anak tunanetra dengan jumlah yang lumayan besar diterima di tidak sedikit sekolah umum lokal. Alexander Barnhill, dalam kata pengantarnya pada bukunya A New Era in the Education of Blind Children, or Teaching the Blind in Ordinary School (1875), menuliskan bahwa ada 50 anak tunanetra yang dilatih dengan teknik ini di Skotlandia dan melulu 102 dilatih di lembaga-lembaga khusus untuk tunanetra.
Kelompok-kelompok penjaringan yang didirikan di tidak sedikit kota pada tahun 1830-an dan 1840-an guna menjaring orang tunanetra dewasa guna diberi pengajaran membaca, menemukan pun anak-anak tunanetra yang belum bersekolah. Kota lokasi tinggal Barnhill, Glasgow, tidak terkecuali. Dia menuliskan bahwa di kotanya sendiri, di mana ada sebuah lokasi tinggal suaka yang paling baik, anak-anak laksana ini, dalam jumlah yang lumayan besar, ditemukan tumbuh tanpa edukasi - orang tuanya tidak dapat atau tidak bercita-cita memasukkannya ke lembaga-lembaga untuk tunanetra.
Barnhill berasumsi bahwa pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk anak-anak tunanetra di sekolah biasa adalahsatu-satunya teknik untuk mendapat pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk semua anak tunanetra, dengan argumentasi sebagai berikut: Banyaknya kendala atau tingginya biaya seringkali adalahpenghambat dimasukkannya anak-anak tunanetra ke lembaga-lembaga untuk tunanetra, sehingga tidak sedikit anak yang terabaikan sama sekali. Dalam suasana seperti ini, dalil untuk mendidik anak-anak tunanetra di sekolah biasa mesti dinyatakan sebagai dalil terkuat. Sudah terlihat cukup tidak sedikit indikasi bahwa Negara tidak bakal mentoleransi penyelenggaraan edukasi yang hanya untuk 50% dari populasi anak tunanetra, yang tertampung di lembaga-lembaga, dan tidak mempedulikan selebihnya tumbuh tak terperhatikan. Ketika Barnhill mengadvokasikan guna diselenggarakannya edukasi cuma-cuma untuk anak-anak tunanetra di sekolah-sekolah umum lokal, dia tidak bermaksud menuliskan bahwa sekolah-sekolah eksklusif harus ditutup, tetapi dia menyampaikan bahwa pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk semua anak tunanetra melulu dapat dijangkau dengan memanfaatkan sekolah umum lokal.
The Royal Commission on the Blind and Deaf and Dumb (Komisi Kerajaan guna Urusan Tunanetra dan Tunarungu), yang mengucapkan laporannya pada tahun 1889, menulis bahwa di samping apa yang telah dilakukan di Glasgow, sekolah-sekolah umum di London, Bradford, Cardiff dan Sunderland pun telah mengemban pengajaran untuk anak-anak tunanetra. Laporan tersebut menyampaikan bahwa dalam banyak sekali kasus, anak-anak ini mengekor jadwal biasa bersama-sama dengan teman-temannya yang awas dan bergaul dengan mereka, baik pada masa-masa sekolah maupun pada masa-masa bermain. Di London, anak-anak tunanetra seringkali mengikuti sekolah biasa, namun di samping itu, pada hari-hari tertentu mereka menerima pengajaran eksklusif di pusat-pusat edukasi khusus untuk tunanetra yang jumlahnya terdapat 18 buah. Pada tahun 1888 jumlah borongan anak tunanetra ialah 132.
Para anggota Komisi itu pada lazimnya lebih menyenangi pendidikan baju seragam TK PAUD TPA anak-anak tunanetra bersama-sama dengan anak-anak awas. Mereka mencatat bahwa pergaulan yang bebas dengan orang-orang awas menyerahkan semangat dan kemandirian untuk orang-orang tunanetra, dan menyerahkan stimulus yang sehat, yang memungkinkan mereka berlomba secara lebih sukses dengan orang-orang awas dalam kehidupan mereka kelak dikomparasikan dengan mereka yang dididik sepenuhnya di lembaga-lembaga khusus untuk tunanetra.
Atas gagasan Komisi tersebut, the Elementary Education Act (Undang-undang pendidikan baju seragam TK PAUD TPA Dasar) untuk Anak Tunanetra dan Tunarungu diberlakukan pada tahun 1893. Undang-undang tersebut mengharuskan dewan pengurus sekolah lokal untuk menyerahkan pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk anak-anak tunanetra dari umur lima hingga enam belas tahun, yang adalahsatu prestasi besar pada masa di mana usia paling tidak untuk terbit sekolah untuk anak pada umumnya ialah sepuluh tahun.
Berlawanan dengan apa yang barangkali diharapkan, menjelang akhir abad ke-19 tersebut praktek mendidik anak-anak tunanetra di sekolah umum terlihat menurun, dan sekolah-sekolah khusus tidak dipedulikan untuk mengisi tuntutan keperluan pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk anak-anak tunanetra tersebut sendirian. Sejumlah hal bertanggung jawab atas evolusi ini. Satu di antaranya ialah mungkin bahwa Undang-undang edukasi tahun 1893 tersebut mengandung satu klausul yang menata satu formalitas baru bahwa suatu sekolah mesti memiliki sertifikasi guna dapat dipandang sesuai untuk melatih anakk-anak tunanetra, dan jelas sekolah khusus bakal lebih memungkinkan untuk mengisi persyaratan untuk mendapat sertifikasi itu daripada sekolah umum yang dikelola oleh dewan pengurus lokal. Lebih jauh, menurut Undang-undang edukasi Inggris tahun 1902, lembaga edukasi lokal yang lebih kecil dilebur ke dalam lembaga yang lebih besar, dan banyak sekali otoritas edukasi leburan itu tampaknya lebih suka mengisi kewajibannya terhadap anak-anak tunanetra ini dengan mengongkosi mereka guna masuk ke sekolah khusus untuk tunanetra suasta.
Maka sekolah-sekolah khusus untuk tunanetra mengkonsolidasikan posisinya dan gerakan guna mendidik anak tunanetra di sekolah-sekolah umum lokal kehilangan momentumnya sekitar 70 tahun. Akan tetapi, gerakan ini tidak mati sama sekali, sebab satu survey oleh College of Teachers of the Blind dan National Institute for the Blind (1936) mengadukan bahwa praktek yang saat tersebut dijumpai di Glasgow, sebagaimana dicerminkan oleh salah seorang saksi dari Skotlandia, ialah bahwa di satu dari tiga sekolah guna anak awas ada anak tunanetra.
Pada mula abad ke-20, jumlah anak di sekolah khusus untuk tunanetra meningkat, meskipun sekolah-sekolah itu aga selektif dalam pendekatannya.
Wilson (1907), dalam kata pengantarnya pada edisi keempat dari Information with Regard to Institutions, Societies and Classes for the Blind in England and Wales, mengaku bahwa:
Hal-hal sebagai berikut dapat di anggap sebagai aturan umum yang memprovokasi semua anak yang hendak masuk ke sekolah khusus untuk tunanetra. Mereka mesti buta sama sekali, atau secara praktis ialah buta, tidak berkekurangan dalam daya intelek atau fisiknya, berkesehatan baik, tidak kaku, tidak menderita penyakit kulit ataupun gangguan beda yang bisa mengganggu kenyamanan sesama pelajar, dan mesti telah divaksin atau pernah terpapar cacar.
Secara singkat, bisa ditambahkan bahwa paling sulit guna memberi rekomendasi mengenai apa yang usahakan dilaksanakan terhadap anak tunanetra yang sakit-sakitan, lemah, dan "berkelainan", yang tidak berhak masuk ke sekolah khusus untuk tunanetra.
Sekitar tahun 1907 sekolah berasrama sudah menjadi norma untuk anak-anak tunanetra, dan susunan yang memuat lebih dari 33 sekolah berasrama yang melayani 826 anak laki-laki dan 639 anak wanita dikatalogkan oleh Wilson.
Pada tahun tersebut pun berdiri College of Teachers of the Blind (CTB) (lembaga edukasi guru untuk tunanetra), yang mengerjakan pengujian terhadap guru-guru di sekolah khusus untuk tunanetra dan menyerahkan diploma untuk mereka yang mengisi persyaratannya. Memperoleh diploma CTB dalam masa tiga tahun melatih di suatu sekolah khusus untuk tunanetra menjadi wajib untuk guru-guru menurut ketentuan pemerintah.
Sekolah untuk Anak Kurang Awas (Low Vision)
Sekitar mula abad ke-20, keperluan pendidikan baju seragam TK PAUD TPA anak-anak tidak cukup awas (yang ketika tersebut disebut partially sighted atau partially blind) mulai dinyatakan sebagai bertolak belakang dari keperluan anak-anak yang buta. Klasifikasi kebutaan sampai saat tersebut demikian kabur sampai-sampai anak-anak yang masih mempunyai sisa penglihatan dengan gampang dapat dimasukkan ke sekolah khusus guna anak-anak yang buta ataupun ke sekolah biasa.
Pada tahun 1902, seorang dokter mata muda, N. Bishop Harman, diberi tanggung jawab untuk menyerahkan layanan optalmologis untuk sekolah-sekolah khusus untuk tunanetra di London (Hathaway, 1964). Harman mengejar bahwa tidak sedikit anak di sekolah-sekolah khusus untuk tunanetra di London masih mempunyai cukup tidak sedikit sisa penglihatan untuk mendapat keuntungan dari cara pengajaran visual. Atas rekomendasinya, anak-anak yang mengidap myopia berat dan bentuk-bentuk kehilangan beberapa penglihatan lainnya secara tentatif diperkenalkan dengan metode-metode pengajaran visual di sekolah-sekolah khusus untuk tunanetra di London. Kelas kesatu guna anak-anak tidak cukup awas didirikan pada tahun 1908 di suatu sekolah dasar biasa di Camberwell, suatu tempat di distrik London. Pada awalnya, anak-anak tidak cukup awas itu dilarang menyimak dan menulis, dan pekerjaan belajar/mengajar dilakukan secara lisan. Praktek ini berangsur-angsur berubah dengan diizinkannya pemakaian tulisan cetak tangan berukuran besar pada papan tulis (lihat Gambar 1.1).
Kelas-kelas beda didirikan di sekolah-sekolah umum di London dan tempat-tempat beda di semua Inggris, namun sementara sejumlah kelas khusus tersebut bertahan terus, selama tahun 1930 banyak sekali penyelenggaraan hpendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk anak tidak cukup awas ini dilakukan di sekolah eksklusif yang terpisah. Pada tahun 1931 National Board of Education menyusun sebuah panitia di bawah kepemimpinan Crowther untuk mengoleksi informasi tentang edukasi anak tidak cukup awas. Di antara rekomendasi panitia ini ialah bahwa istilah "partially sighted" lebih tepat daripada "partially blind" guna anak-anak ini, dan bahwa usahakan mereka tidak disekolahkan di sekolah guna anak-anak yang buta.
Perwakilan medis panitia tersebut juga merekomendasikan pelonggaran pembatasan dalam hal menyimak dan mencatat serta latihan jasmani yang sudah dipraktekkan sampai saat tersebut demi dalil "penghematan penglihatan", suatu kepercayaan yang salah bahwa saldo penglihatan bakal semakin berkurang bila dipergunakan sampai-sampai perlu dihemat dengan memberi batas pemakaiannya. Sayangnya laporan Crowther tersebut kecil sekali dampaknya terhadap edukasi anak-anak tidak cukup awas, dan jumlah tempat untuk anak-anak ini di kelas-kelas di sekolah umum tetap terbatas sampai diberlakukannya Undang-undang pendidikan baju seragam TK PAUD TPA (Education Act) 1945 (Department of Education and Science [DES], 1972).
Berbagai Bentuk Penyelenggaraan Lain
Sekitar tahun 1930-an berbagai format penyelengaraan edukasi tersedia untuk sekian banyak kelompok usia. National Institute for the Blind menegakkan "Sunshine Homes for Blind Babies" (rumah sinar mentari untuk bayi tunanetra) di semua Inggris pada tahun 1918, 1923, dan 1924 (College of Teachers of the Blind/National Institute for the Blind [CTB/NIB], 1936). Rumah-rumah ini, yang melayani "anak-anak yang tidak bisa dilayani secara mencukupi di rumahnya sendiri", menawarkan edukasi berasrama untuk anak-anak pra-sekolah sedini mungkin. Anak-anak pra-sekolah yang tidak bermukim di Sunshine Home tidak jarang mendapat trafik dari pekerja sosial yang dinamakan "home teachers for the blind", satu peranan yang sudah berkembang dari "guru menyimak kunjung" yang umum pada abad sebelumnya.
pendidikan baju seragam TK PAUD TPA dasar untuk anak-anak tunanetra tetap mesti antara umur lima hingga 16 tahun. Kebanyakan dari anak-anak ini bersekolah di sekolah khusus untuk tunanetra sampai usia 16 tahun dan lantas disalurkan ke pusat latihan untuk tunanetra di mana mereka mendapat pengajaran kekaryaan dalam keterampilan-keterampilan seperti menciptakan keranjang dan sikat, mengatur tempat tidur, membetulkan sepatu, bertenun atau penyetelan piano (piano tuning).
Pada umur 11 atau 12 tahun, anak-anak tunanetra yang sangat berkemampuan diseleksi untuk edukasi lanjutan dan menengah yang diadakan di Worcester College for the Blind, Chorleywood College for Girls with Little or No Sight, atau The Royal Normal College for the Blind. Pusat-pusat edukasi ini menyiapkan siswa-siswanya guna ujian negara yang hasilnya dapat membawa mereka ke universitas atau karier dalam profesi-profesi tertentu.
Pada tahun 1930-an pun, dinyatakan bahwa penyelenggaraan pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk anak-anak umur sekolah yang diidentifikasi sebagai menyandang ketunanetraan tersebut masih membutuhkan reorganisasi. Sebagian besar dari ke-34 sekolah eksklusif yang ada melulu mempunyai siswa dalam jumlah kecil (kadang-kadang melulu 20 orang) dan tidak bisa menawarkan kurikulum yang luas ataupun kelas-kelas yang lumayan homogen.
College of Teachers of the Blind dan the National Institute for the Blind (CTB/NIB, 1936) merekomendasikan sebuah reorganisasi nasional sampai-sampai pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk anak-anak tunanetra hanya diadakan oleh sekolah-sekolah yang lebih banyak dalam jumlah yang lebih sedikit, yang kesemuanya berasrama. Mereka pun mengusulkan diselenggarakannya taman inderia regional berasrama guna kanak-kanak di bawah umur lima tahun, dan mempertimbangkan guna mereorganisasi sekolah-sekolah khusus untuk tunanetra supaya sesuai dengan sistem baru yang diberlakukan untuk sekolah-sekolah umum, di mana seluruh anak bakal meninggalkan sekolah dasar pada umur 11 tahun guna masuk ke sekolah lanjutan dan menengah yang terpisah.
Perang Dunia Kedua mengacaukan rencana pengembangan sistem pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk tunanetra itu, dan tidak sedikit di antara sekolah eksklusif di kota-kota untuk sedangkan waktu dialihkan ke wilayah pedesaan karena dalil keamanan. Tahun-tahun setelah Perang Dunia Kedua ditandai oleh konsolidasi penyelenggaraan sekolah-sekolah khusus.
Undang-undang pendidikan baju seragam TK PAUD TPA (Education Act) 1944 sudah meredefinisikan kelompok ketunaan dan merangkum untuk kesatu kalinya kelompok "partially sighted" (kurang awas) yang didefinisikan sebagai "pupils who by reason of defective vision cannot follow the ordinary curriculum without detriment to their sight or to their educational development, but can be educated by special methods involving the use of sight" (siswa-siswa yang karena dalil ganguan penglihatan tidak dapat mengekor kurikulum biasa tanpa membahayakan penglihatannya atau pertumbuhan pendidikan baju seragam TK PAUD TPAnya, namun dapat dididik dengan metode-metode eksklusif yang merangkum pemakaian penglihatan).
Antara tahun 1945 dan 1947 empat sekolah berasrama yang sebelumnya mengakomodasi siswa-siswa yang buta maupun tidak cukup awas direorganisasi menjadi sekolah guna siswa-siswa tidak cukup awas saja. Pada akhir tahun 1940-an, sejumlah sekolah khusus untuk tunanetra di bagian unsur utara England direorganisasi menjadi sekolah dasar dan sekolah lanjutan, dan siswa-siswa berganti sekolah pada umur 11 tahun.
Pada akhir tahun 1940-an dan mula tahun 1950-an terjadi penambahan yang tak diperkirakan dalam jumlah anak yang buta menurut keterangan dari pendidikan baju seragam TK PAUD TPA (educationally blind). Anak-anak ini, yang pada lazimnya lahir prematur, pada mula masa bayinya mengembangkan satu situasi yang pada saat tersebut dikenal dengan istilah "retrolental fibroplasia" (RLF) yang menyebabkan ketunanetraan yang parah dan kadang-kadang disertai ketunaan beda yang bersangkutan. Pada awalnya penyebab situasi tersebut melulu sedikit saja dimengerti, tetapi lantas ditemukan bahwa situasi tersebut berhubungan dengan cara-cara pemberian oxygen untuk bayi-bayi prematur. Berkat perbaikan dalam teknik pemberian oxygen untuk bayi-bayi prematur, situasi tersebut mayoritas dapat ditanggulangi tetapi sudah mewariskan sebanyak besar anak tunanetra di sekolah-sekolah berasrama pada tahun 1950-an dan 1960-an.
Sekolah untuk Anak-anak dengan Ketunaan Tambahan
Kesenjangan utama dalam penyelenggaraan pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk tunanetra ialah kurangnya lokasi yang cocok untuk anak-anak tunanetra yang menyandang kendala belajar (learning disabilities). Pada tahun 1930-an, penyelenggaraan pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk anak-anak ini terbatas pada Court Grange School di Abbotskerswell di South Devon, suatu sekolah kecil berasrama yang didirikan pada tahun 1931 oleh National Institute for the Blind guna 34 anak yang dicerminkan sebagai "terbelakang" yang mempunyai peluang yang lumayan baik guna "reklamasi" (CTB/NIB, 1936).
Akan tetapi, pada tahun 1930-an dan bertahun-tahun setelah itu, anak-anak yang menyandang keterbelakangan mental yang paling parah di anggap sebagai tidak dapat didik. The Ellen Terry Homes for Blind Mentally Defective Children (rumah penampungan anak tunanetra dengan ketunaan mental) mengakomodasi 30 anak "yang kondisinya sedemikian rupa sampai-sampai mereka tidak bisa diberi pendidikan baju seragam TK PAUD TPA" (CTB/NIB, 1936). Anak-anak tunanetra yang mengidap epilepsi berat pun dikesampingkan dari sekolah-sekolah khusus untuk tunanetra dan sebanyak anak tunanetra yang menyandang ketunaan beda yang berat tetap sedang di luar sistem pendidikan baju seragam TK PAUD TPA sampai sesudah diberlakukannya Education (Handicapped Children) Act (Department of Education and Science, 1970).
Sebagai respon terhadap semakin bertambahnya kepedulian terhadap anak-anak ini, suatu sekolah didirikan oleh National Institute for the Blind pada tahun 1947 di Condover Hall, sebuah lokasi tinggal peninggalan abad ke-16 di wilayah pedesaan Shropshire. Kepala sekolah kesatunya, Stanley Oscar Myers, menjadi seorang figur yang sangat urgen dalam pengembangan pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk anak-anak tunanetra dengan ketunaan tambahan. Sekolah itu pada tadinya hanya melayani 60 anak umur 7-16, namun pada tahun 1959, sebagai respon terhadap semakin bertambahnya tuntutan kebutuhan, RNIB membuka Rushton Hall School di Northamptonshire guna anak-anak umur 7-11 tahun yang buta menurut keterangan dari pendidikan baju seragam TK PAUD TPA dan memiliki ketunaan tambahan, dan Condover menjadi sekolah lanjutan untuk anak-anak kumpulan ini yang berusia 12-17 tahun. Pada tahun yang sama, "Pathways", suatu unit guna anak-anak yang tunanetra-rungu (deaf-blind), didirikan di Condover (Myers, 1975).
pendidikan baju seragam TK PAUD TPA Guru
College of Teachers of the Blind (lembaga edukasi guru untuk tunanetra) (CTB) adalahtenaga pendorong untuk pengembangan metodologi pengajaran, dan sampai tahun 1950-an adalahsatu-satunya lembaga yang bertanggung jawab untuk mengadakan pendidikan baju seragam TK PAUD TPA guru untuk tunanetra secara profesional di Inggris. Sebagian besar guru yang melatih di sekolah-sekolah khusus untuk tunanetra sudah kawakan mengajar di sekolah umum dan dipersyaratkan untuk mendapat kualifikasi dari CTB sementara melatih penuh masa-masa di posnya yang baru.
Program edukasi kesatu untuk guru-guru guna anak-anak tunanetra yang diadakan di suatu lembaga edukasi tinggi didirikan di University of Birmingham pada pertengahan tahun 1950-an. Angkatan kesatunya terdiri dari enam orang mahasiswa yang mengekor perkuliahan sarat waktu selama setahun untuk diploma. Program tersebut, yang terdahulu berada di bawah kepemimpinan Myfanwy Williams, dan selanjutnya di bawah Elizabeth Chapman OBE, berkembang terus, dan pada tahun 1980-an program ini sudah menyamai peranan CTB di tingkat nasional dalam edukasi guru, menawarkan program edukasi penuh masa-masa maupun perkuliahan jarak jauh sampai tingkat gelar untuk guru-guru dari semua Inggris dan semua dunia.
Pada tahun 1970, Research Centre for the Education of the Visually Handicapped (RCEVH) (pusat penelitian edukasi tunanetra ) didirikan di University of Birmingham di bawah kepemimpinan Dr. Michael Tobin. Di antara karya-karya kesatunya ialah penelitian ke arah penyederhanaan kode Braille dan studi longitudinal terhadap anak-anak yang tunanetra.
Pertumbuhan Sistem Integrasi
Sekitar tahun 1970, pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk anak-anak yang tunanetra menjadi konsentrasi kaji ulang lagi secara nasional. Pengurangan yang tajam dalam jumlah anak yang buta menurut keterangan dari pendidikan baju seragam TK PAUD TPA, yang terjadi setelah kumpulan anak pengidap RLF melalui masa sekolahnya, menimbulkan tuntutan bakal reorganisasi sistem penyelenggaraan pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk anak tunanetra. Kecemasan pun mulai hadir ke permukaan mengenai sempitnya pilihan edukasi yang tersedia untuk para orang tua guna anak-anaknya yang menyandang ketunanetraan.
Perdebatan mengenai pengintegrasian anak-anak tunanetra ke dalam sekolah umum memanas kembali saat bukti mulai hadir dari percobaan skala kecil yang melibatkan pengintegrasian anak-anak dari sekolah-sekolah berasrama guna tunanetra ke sekolah menengah umum lokal. Pada tahun 1961, sekolah khusus untuk tunanetra St. Vincent, suatu sekolah berasrama Katolik guna anak-anak tunanetra segala usia di Liverpool, mulai mengirimkan sejumlah siswanya yang sangat berprestasi ke sekolah dasar Katolik terdekat guna belajar bersama-sama dengan anak-anak awas. Anak-anak tunanetra itu didukung oleh seorang guru kawakan dari St. Vincent yang memberi advis untuk guru-guru ruang belajar di SD tersebut tentang kebutuhan-kebutuhan eksklusif anak-anak itu dan menolong anak-anak tersebut dalam menggarap pekerjaan rumahnya masing-masing malam bila mereka kembali ke St. Vincent. Eksperimen serupa di Tapton Mount School di Sheffield dibuka pada tahun 1969 saat empat orang anak yang edukasi tingkat SD-nya ditempuh di sekolah tersebut melanjutkan edukasi tingkat lanjutannya di suatu sekolah lanjutan komprehensif setempat.
Hasilnya mengindikasikan bahwa dengan tingkat sokongan yang tepat, anak-anak tertentu yang buta menurut keterangan dari pendidikan baju seragam TK PAUD TPA dapat sukses secara akademik di sekolah umum. Akan tetapi, pada saat tersebut keahlian dalam mendidik anak-anak yang tunanetra nyaris secara khusus hanya ditemukan di sekolah-sekolah khusus, dan otoritas edukasi lokal (Local Education Authority / LEA) tidak memiliki banyak pilihan yang bisa ditawarkannya. Pada tahun 1968, Margaret Thatcher, yang pada ketika itu ialah Menteri Negara guna pendidikan baju seragam TK PAUD TPA dan Ilmu Pengetahuan, menyusun sebuah komisi guna mempelajari sekian banyak kemungkinan pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk tunanetra, yang diketuai oleh Profesor M. D. Vernon. Pada saat tersebut penyelenggaraan pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk tunanetra terdiri dari 18 sekolah khusus untuk anak-anak yang buta, 19 sekolah khusus guna anak-anak tidak cukup awas, dua sekolah yang mendidik kedua klasifikasi ketunanetraan tersebut, dan delapan sekolah umum yang meluangkan kelas-kelas khusus untuk anak-anak tidak cukup awas.
Laporan mengenai hasil investigasi tersebut diterbitkan pada tahun 1972 (DES, 1972), dan sebanyak rekomendasi diciptakan mengenai pengembangan sistem pelayanan di masa depan. Diusulkan supaya sebuah rencana nasional diciptakan untuk pendistribusian, pengorganisasian dan manajemen sekolah-sekolah eksklusif dan bentuk-bentuk layanan edukasi lainnya guna tunanetra. Rekomendasi-rekomendasi lainnya merangkum pembentukan kesebelasan asesmen multidisipliner regional guna anak-anak pra-sekolah, dan satu pernyataan bahwa anak-anak ini seyogyanya tidak dijauhkan dari lokasi tinggal keluarganya. Sebagai gantinya, komisi itu mengusulkan supaya anak-anak pra-sekolah seyogyanya didukung oleh seorang guru kunjung (peripatetic teacher) yang ditugaskan oleh otoritas edukasi lokal, yang akan mendatangi anak-anak tersebut di rumahnya, memberi advis untuk orang tuanya dan memberi dukungan untuk pengintegrasian ke taman kanak-kanak setempat.
Rekomendasi itu segera dilakukan berkat keberhasilan suatu layanan eksperimental yang telah disusun di distrik Midlands. Meskipun pada tahun 1950-an semua kepala dan staf senior dari ketujuh taman kanak-kanak Sunshine House telah mengadakan trafik rumah ke keluarga-keluarga bila diminta, tetapi layanan ini hanya diserahkan kepada sejumlah anak saja yang berhubungan dengan taman kanak-kanak tersebut. Sebagai respon terhadap kegelisahan yang diungkapkan pada tahun 1960-an oleh semua kepala sekolah khusus untuk tunanetra mengenai keterlambatan pertumbuhan di kalangan anak-anak yang masuk sekolah-sekolah eksklusif itu, kepala sekolah Lickey Grange School diberi izin oleh atasannya, Birmingham Royal Institution for the Blind, untuk mengadakan program cikal bakal untuk menyerahkan layanan trafik cuma-cuma untuk anak-anak pra-sekolah yang bermukim di dalam radius 50 mil di Birmingham. Guru kunjung spesialis kesatu yang khusus guna anak-anak pra-sekolah beserta keluarganya ini ialah seorang mantan kepala suatu taman kanak-kanak Sunshine House, Heather Jones, yang menempati posisi barunya tersebut pada bulan Januari 1970.
Meskipun respon terhadap permintaan bakal layanan ini dari LEA dialami lamban, tetapi tidak sedikit anak dirujuk melewati kontak pribadi, dan permintaan akan sokongan ini tidak melulu datang dari semua orang tua, taman kanak-kanak dan kumpulan bermain (playgroup), tetapi pun dari guru-guru di sekolah-sekolah umum lokal yang memiliki murid yang tunanetra. Dokter spesialis anak dan psikolog pertumbuhan di pusat-pusat asesmen yang baru berkembang dan unit-unit pengembangan anak di rumah-rumah sakit pun turut menyerahkan layanan, dan segera permintaan akan sokongan atau advis mulai diterima dari semua Inggris. Pada tahun 1971, The Royal National Institute for the Blind (RNIB) sepakat untuk memungut alih layanan advisoris ini dan mengusung dua orang guru untuk tunanetra yang lebih kawakan untuk tugas tersebut. Jumlah tim itu tumbuh terus untuk mengisi permintaan nasional yang senantiasa meningkat.
Meskipun Laporan Vernon tersebut telah mendapat respon yang spektakuler terhadap rekomendasinya mengenai sistem integrasi, namun komisi yang diketuai oleh Prof. Vernon tersebut menyarankan supaya dilaksanakan percobaan lebih lanjut tentang pendidikan baju seragam TK PAUD TPA anak-anak tunanetra di sekolah umum, baik dalam ruang belajar reguler maupun ruang belajar khusus. Di samping itu, sedangkan RNIB memperluas layanan advisorisnya, sejumlah otoritas lokal mulai mengusung guru-guru advisorisnya sendiri. Manchester dan Cleveland ialah di antara otoritas lokal kesatu yang mengadakan program layanan untuk menyokong anak-anak yang tunanetra di sekolah umum. Sebagian besar dari "peri-peri" cikal bakal itu dipungut oleh LEA dari guru-guru yang berkualifikasi dari sekolah-sekolah khusus untuk tunanetra. Guru-guru ini tidak banyak demi tidak banyak mempertinggi tingkat sokongan lokal untuk para orang tua beserta anak-anaknya. Fokus layanan ini pada awalnya ialah untuk memberi sokongan kkepada anak-anak pra-sekolah dan memberikan sokongan pengajaran untuk anak-anak tidak cukup awas di sekolah umum. Layanan ini meluas dengan cepat, dan di sejumlah wilayah kesebelasan guru kunjung mulai menawarkan pengajaran dan sokongan advisoris yang merangkum semua kumpulan usia dan seluruh tingkat keterampilan anak-anak yang tunanetra.
Warnock Report (DES, 1978) menyajikan hasil sebuah investigasi pemerintah mengenai pendidikan baju seragam TK PAUD TPA untuk anak-anak penyandang keperluan khusus dan memperkuat kecenderungan ke arah edukasi anak-anak penyandang keperluan khusus di sekolah umum. Education Act 1981 (DES, 1981) melafalkan bahwa anak-anak penyandang keperluan khusus seyogyanya mendapat pendidikan baju seragam TK PAUD TPAnya di sekolah umum setempat asalkan menyimak efisiensi pemakaian sumber-sumber yang ada.
Hal ini lebih mempercepat lagi penambahan jumlah unit layanan advisoris LEA untuk anak-anak tunanetra pada tahun 1980-an. Anak-anak tidak cukup awas sekarang pada lazimnya dididik di sekolah-sekolah umum, dan urusan ini mulai dominan pada penerimaan murid baru untuk sekolah-sekolah khusus untuk anak tidak cukup awas. Selama akhir tahun 1970-an dan mula tahun 1980-an, sekolah-sekolah khusus untuk anak-anak tidak cukup awas merasakan pengurangan peranan secara menyeluruh dan tidak sedikit di antaranya mesti tutup. Beberapa yang bertahan mulai pun menawarkan layanan untuk anak-anak yang buta secara pendidikan baju seragam TK PAUD TPA, dan akibatnya perbedaan antara sekolah khusus untuk anak-anak yang buta dan sekolah khusus untuk anak tidak cukup awas tidak terdapat lagi, sebab sekolah-sekolah eksklusif yang bertahan tersebut kini melayani seluruh klasifikasi ketunanetraan dengan rentangan keterampilan yang lebih luas.
Sistem layanan guru kunjung tumbuh terus dan menjelang mula tahun 1990-an nyaris semua otoritas edukasi lokal di Britania sudah menyusun dinas layanannya sendiri. Karena layanan itu beroperasi di sekolah umum, maka suatu cerminan yang lebih menyeluruh mulai hadir tentang populasi anak tunanetra. Angka populasi itu terevisi terus. Pada tahun 1990-an, sekian banyak laporan mengindikasikan bahwa angka yang tepat ialah sekitar 19.500 anak, yang dua pertiganya diduga menyandang ketunaan ekstra (lihat Bab 2 dan 32).
Meskipun sekolah-sekolah khusus untuk tunanetra melulu melayani beberapa kecil dari 19.500 anak ini, namun penurunan dalam populasi sejumlah sekolah ini tampaknya sudah menjangkau titiknya. Terdapat konsensus di kalangan semua pendidik mengenai perlunya terdapat sekian banyak jenis layanan di masing-masing wilayah, sampai-sampai dapat menawarkan untuk para orang tua satu opsi yang lebih mereka sukai salah satu bermacam-macam jenis sistem penyelenggaraan edukasi yang tersedia untuk anak-anaknya yang menyandang ketunanetraan.
Tantangan masa sekarang dan masa depan akan dikaji pada bab selanjutnya, namun prestasi dan kegagalan di masa lalu tersebut patut disalin dan ditandai.